RSS

materi untuk bulan syawal#1

22 Sep

Allah.swt berfirman :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
“(Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”)”
. (al-A’raf  7 :172)


Seiring dengan perkembangan itu sendiri, banyak di antara manusia dalam perjalanan hidupnya yang melupakan Allah serta telah melakukan dosa dan salah kepada Allah dan kepada sesama manusia. Untuk itu, memahami kembali makna Idul Fitri (kembali ke fitrah) dengan membangun kembali pengabdian hanya kepada Allah adalah sebuah keharusan sehingga kita semua dapat menjadi hamba-hamba muttaqin dan hamba yang tidak mempunyai dosa. Dosa kepada Allah terhapus dengan jalan
bertaubat dan dosa kepada sesama manusia dapat terhapus dengan silaturrahim.
Idul Fitri atau kembali ke fitrah akan sempurna tatkala terhapusnya dosa kita kepada Allah diikuti dengan terhapusnya dosa kita kepada sesama manusia. Terhapusnya dosa kepada sesama manusia dengan jalan kita memohon maaf dan memaafkan orang lain.
(Dari al-Hasan bin Ali dan Muhammad bin al-Mutawakkil keduanya dari Abd al-Razaq dari al-Ma’mar dari al-Hasan dan Malik bin Anas dari al-Zuhri dari Abi Salamah dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW senang melaksanakan
Qiyam Ramadhan (Tarawih) meskipun tidak mewajibkannya. Kemudian bersabda : ”Barangsiapa melaksanakan Qiyam ramadhan (tarawih) karena Allah dan mencari pahala dari Allah akan diampuni dosanya yang telah lalu”. Kemudian Rasulullah wafat, sedang masalah Qiyam Ramadhan tetap seperti sediakala pada pemerintahan Sayyidina Abu Bakar.ra dan pada awal pemerintahan Sayyidina Umar bin Khattab.ra).
(Dari Muhammad bin Salam dari Muhammad bin Faudhail dari Yahya bin Sa’id dari Abi Salamah dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan ramadhan dengan kepercayaan bahwa perintah puasa itu dari Allah dan hanya mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosanya”).
Dosa merupakan catatan keburukan di sisi Allah yang telah dilakukan oleh setiap manusia karena mereka tidak menjalankan perintah atau karena mereka melanggar larangan Allah dan RasulNya.
Bulan Ramadhan merupakan bulan khusus yang dikhususkan Allah untuk Umat Islam. Di bulan ini terdapat maghfirah, rahmah dan itqun minan nar. Selain itu, bulan Ramadhan juga menjadi sarana umat manusia untuk memohon dan meminta pengampunan dari Allah dengan jalan melaksanakan ibadah puasa dan shalat tarawih
Sejak Idul Fitri resmi jadi hari raya nasional umat Islam, tepatnya pada tahun II H. kita disunahkan untuk merayakannya sebagai ungkapan syukur atas kemenangan jihad akbar melawan nafsu duniawi selama Ramadhan. Tapi Islam tak menghendaki perayaan simbolik, bermewah-mewah. Apalagi sambil memaksakan diri. Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang perbuatan kita selama ini.

Hakikat Hari Raya

Hari Raya adalah hari kegembiraan bagi setiap orang yang beriman. Gembira karena telah berhasil melepaskan dosa-dosa selama Ramadhan. Gembira karena telah menang terhadap setan dan hawa nafsu. Karena itu, kegembiraan ini jangan disambut dengan gelora nafsu belaka. 1 Syawal bukan hari pembebasan sebebas-bebasnya. Melainkan hari pertama kita mulai terjun ke medan pertarungan melawan hawa nafsu dan setan, setelah sebulan penuh kita berbekal iman dan kekuatan ruhani. Kita harus mengendalikan nafsu itu ke arah yang positif, bukan malah kita dikendalikan nafsu ke arah yang buruk. Kita harus bergegas dalam kebaikan-kebaikan seperti dalam suasana Ramadhan.

Hari Raya adalah hari bagi umat Islam melaksanakan konsep Idul Fitri yang dimaksudkan kembali ke fitrah. Dengan tibanya Idul Fitri, umat Islam seolah-olah baru kembali dengan hati dan jiwa yang bersih. Bayangkanlah keadaan umat islam saat itu, keadaan baru kembali seperti sehelai kain putih bersih dan suci dari segala kotoran. Inilah keberhasilan dan kegembiraan bagi mereka yang berjuang mendapatkan keridhaan Allah. Fitrah tersebut haruslah dipelihara. Kesuciannya jangan sampai tercemari, tetapi harus dijadikan dorongan untuk meneruskan perjuangan dalam melaksanakan ibadah dan meraih pahala lebih besar pada bulan-bulan seterusnya.

Amalan-Amalan di Bulan Syawal

Sobat, datangnya Syawal menandakan tibanya satu lagi peluang besar bagi umat Islam untuk melipatgandakan pahala yang diraih sebelumnya melalui amalan-amalan yang bisa dikerjakan. Ada beberapa amalan yang dapat dilaksanakan di Bulan Syawal diantaranya:

1.Bertakbir mengagungkan kebesaran Allah

Allah swt dalam surat An Nashr mengingatkan bahwa kemenangan tidak pantas disambut dengan tawa dan nafsu. Kemenangan harus disambut dengan tasbih, tahmid, tahlil dan istighfar. Fasbbih bihamdika wastaghfir. innahuu kaana tawwaabaa.

2.Puasa enam hari di bulan Syawal

Salah satu puasa sunah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rosululloh bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.”(HR. Muslim no. 1164). Dari Tsauban, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallambersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya Iedul Fitri, maka seperti berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh lipatnya.” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil). Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan dalam Syarh Shohih Muslim 8/138).

Hadits tersebut menjelaskan bahwa salah satu keistimewaan di bulan Syawal adalah peluang berharga untuk mengejar nikmat dan kemurahan Allah sepanjang hidup yaitu puasa enam hari. Sungguh sangat beruntung sekali jika kita dapat melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Ini sungguh keutamaan yang luar biasa, Sobat. Marilah kita melaksanakan puasa tersebut demi mengharapkan rahmat dan ampunan Allah Subhanahu Wata’ala.

3.Menjaga Sholat Malam

Sobat Bila, Sholat malam adalah sebaik-baik sholat setelah sholat wajib. Dari Abu Hurairah Rosulullah SAW bersabda:” Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah-Muharram-. Sebaik-baik sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam. (HR.Muslim no 1163)

4.Amalan yang kontinyu (ajeg), amalan yang paling dicintai.

Rosulullah SAW bersabda: “ bebanilah diri kalian dengan amal sesuai dengan kemampuan kalian, karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang kontinyu (ajeg) walaupun sedikit.”( HR. Abu Daud, An Nasai, Ibnu Majah, Syaikh Al Bani dalam Shohihul Jami’ no. 1228 mengatakan hadits ini Shohih).

Sobat, Bulan Syawal berarti bulan peningkatan amal kebaikan dan ketaatan. Marilah kita tegaskan kembali dan melaksanakan komitmen kita saat menjalankan amaliyah ibadah Ramadhan, yakni komitmen untuk menjadi insan baru, insan bertaqwa dan pemburu pintu Royyan. Semoga kita menjadi insan yang senantiasa istiqomah di jalan-Nya.

Keutamaan puasa 6 hari di bulan Syawal, Diantara keutamaannya adalah sebagai berikut ;

“Barangsiapa yang mengerjakannya (puasa enam hari bulan Syawal -Red) niscaya dituliskan baginya puasa satu tahun penuh (jika ia berpuasa pada bulan Ramadhan).

Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Abu Ayyub Radhiyallahu ‘Anhu Bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’I dan Ibnu Majah)

Rasulullah menjabarkan dalam sabdanya: “ Barang siapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal selepas ‘Iedul Fitri berarti ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipat.”

Dalam sebuah riwayat berbunyi :“Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa bulan Ramadhan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun.” (HR. An-Nasa’I dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalam Shahih Targhib)

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dengan lafadz: “Puasa bulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan. Sedang puasa enam hari bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Itulah puasa setahun penuh.

Para ahli fiqih madzhab Hambali dan Syafi’I menegaskan bahwa puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa Ramadhan setara dengan puasa setahun, karena pelipat gandaan pahala secara umum juga berlaku pada puasa-puasa sunnah. Dan juga setiap kebaikan dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali  lipat.

Salah satu faidah terpenting dari pelaksanan puasa enam hari hari bulan Syawal ini adalah menutupi salah kekuarangan puasa wajib pada Ramadhan. Sebab puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan pasti tidak terlepas dari kekurangan atau dosa yang dapat mengurangi keutamaannya. Pada hari kiamat nanti akan diambil pahala puasa sunnat tersebut untuk menutupi kekurangan puasa wajib.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw : “Amal ibadah yang pertama kali dihisab pada Hari Kiamat adalah shalat. Allah Ta’ala berkata kepada malaikat –sedang dia Maha Mengetahui tentangnya- : “Periksalah ibadah shalat hamba-hamba-Ku, apakah sempurna ataukah kurang. Jika sempurna maka pahalanya ditulis utuh sempurna. Jika kurang, maka Allah memerintahkan malaikat: “Periksalah apakah hamba-Ku itu mengerjakan shalat-shalat sunnat? Jika ia mengerjakannya maka tutupilah kekurangan shalat wajibnya dengan shalat sunnat itu.” Begitu pulalah dengan amal-amal ibadah lainnya.” (HR. Abu Dawud)

sumber :

http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1155:menangkap-makna-bulan-syawal&catid=25:artikel-rektor

http://sister.imsa.us/index.php?view=article&catid=58&id=562&option=com_content&Itemid=101

http://www.shiar-islam.com/doc84.htm

http://www.salsabeela.com/2010/09/16/makna-hari-kemenangan/

http://www.muslimtionghoa.com/index.php?action=news.main&id=145

http://salam-online.web.id/2006/11/05/puasa-enam-hari-di-bulan-syawal-3.html

http://seivally.wordpress.com/2007/10/19/keutamaan-puasa-enam-hari-bulan-syawal/

http://www.facebook.com/note.php?note_id=137158221649

http://www.pks-jaksel.or.id/Article1434.html

http://formmasibumi.com/oase/memburu-pintu-royyan-di-bulan-syawal/

http://blogsunnah.cybermq.com/post/detail/6534/keutamaan-puasa-6-hari-di-bulan-syawal

http://abuzubair.wordpress.com/2007/07/30/makna-kesucian-dari-bulan-bulan-haram-al-asy-hurul-hurum/

http://id.wikipedia.org/wiki/Idul_Fitri

http://langitan.net/?p=54

http://www.cybermq.com/pustaka/detail/telaah/255/

http://abinyaazka.blogspot.com/2010/08/hari-raya-idul-fitri-makna-dan.html

About these ads
 
1 Comment

Posted by on September 22, 2010 in Materi Mentoring

 

Tags: , , , , , ,

One response to “materi untuk bulan syawal#1

  1. khiyarotunnisa

    September 30, 2010 at 7:50 pm

    when you feel sad, you will get it, but when you believe that happiness will be come, it will be possible, actually, Allah is near from you,,,,^^ keep hamasah my sis/bro….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: