RSS

Prioritas

03 Mar

serial manajemen diri

PRIORITAS

The journey of thousand miles

begin with a single step

Perjalanan ribuan mil dimulai dengan langkah pertama

Tujuan

  1. Peserta memahami tentang prioritas agenda
  2. Peserta mampu mengatur waktunya dengan baik

Sebuah Pengantar

Kami seringkali kecewa saat mengadakan janjian dengan teman. Setiap kali memiliki agenda untuk bertemu, terlalu amat sering menunggu. Bahkan sangat lama. Sampai-sampai kadang yang kami lakukan adalah meninggalkannya untuk menyelesaikan urusan yang lain.Tak jarang pertemuan itu gagal. Alasannya sederhana dan klise, “Mas, saya sibuk mas. Jadi, saya ga bisa ketemu hari ini. Besok aja ya Mas.” Dan esoknya pun alasannya sama.

Kami kemudian tersadar sesadar-sadarnya. Betapa pelajar di SMA 1 ini memiliki buanyak banget agenda. Pertemuan dengan kami mungkin hanyalah hal kecil di antara aktivitas yang harus mereka selesaikan. Pernah gak ngerasa seperti ini :

“Mas, gimana ya. Saya tu sibuk. Begitu banyak tugas yang harus saya selesaikan. Sekolah selalu saja ngasih PR. Padahal kan, saya juga ingin aktif organisasi.Saya ingin banyak belajar dari organisasi agar hidup saya lebih teratur. Tapi terkadang tuntutan organisasi juga banyak mas. Apalagi saya gak cumin ikut satu organisasi. Saya mengerjakan banyak sekali hal yang membuat saya tidak konsen ke pelajaran.”

Ck….ck…ck… !! Apakah kamu termasuk pelajar seperti di atas ? Nah, karena itulah kita perlu belajar tentang prioritas. Bahwa kita memiliki banyak sekali hal yang harus kita selesaikan dalam satu hari. Tapi, manakah yang harus kita kerjakan ?

Henri L. Douharte, seorang pendiri Cities Service berkata “Ada dua kemampuan yang tidak ternilai, kemampuan berpikir dan kemampuan melakukan sesuatu sesuai dengan kepentingannya”. Henri nampaknya sangat menyadari bahwa dalam hidup ini kita butuh keterampilan menggunakan otak atau intelektual. Tapi, iapun sadar juga bahwa kemampuan itu itu saja tidaklah cukup. Manusia haruslah tahu mana yang harus dianggap penting dan mana yang dianggap tidak penting. Nah, inilah yang jarang dimiliki manusia.

Sebagian besar orang memprioritaskan hal-hal yang mereka senangi, padahal sesungguhnya hal tersebut belum tentu penting bagi hidup mereka. Misalnya ngobrol yang begitru lama tiap sepulang sekolah sampai membuat kita lupa bahwa sebenarnya  kita membutuhkan waktu untuk istirahat dan menyelesaikan tugas-tugas kita. Apalagi kalau malah ngegosip. Akan makin banyak memakan waktu kita.

Kenapa kita melakukan hal tersebut ? Karena ngobrol dengan teman selepas pulang sekolah adalah hal yang nyaman. Sedangkan mengerjakan tugas sekolah tidaklah nyaman (Hayo…ngaku aja). Jadi, ukurannya sebatas perasaan saja. Kamipun seringkali begitu. Ini yang terkadang berbahaya. Kita seringkali hanya melakukan hal-hal yang kita sukai dan meninggalkan yang tidak kita sukai. Padahal, semua itu tidak dalam kerangka prioritas, melainkan hanya sebatas nyaman dan tidak nyaman.

Zona nyaman itu hadir setelah kita tidak nyaman. Ini yang harus kita sadari. Mari coba kita ingat-ingat bagaimana pertama kali kita menyenangi sebuah kebiasaan yang saat ini kita anggap nyaman. Misalnya ngobrol terlalu banyak dengan seorang teman sekelas kita. Bukankah sebelumnya kita merasa tidak nyaman berbincang dengannya ? Kalau hari ini kita betah ngobrol satu jam, mungkin dulu ketika awal jumpa kita hanya ngobrol lima atau sepuluh menit. Karena kebiasaanlah kita merasa nyaman ngobrol dalam waktu yang lama.

Jadi, dalam menentukan skala prioritas, tidaklah tergantung dengan nyaman dan tidaknya kita dengan aktivitas itu, tapi seberapa pentingkah aktivitas tersebut untuk mengejar cita-cita besar kita.

Syarat menjadi pribadi unggul adalah dengan berupaya mencari solusi atas berbagai persoalan, kesulitan dan beban yang dihadapi, bukan dengan menghindari permasalahan tersebut.

Jangan ‘alergi’ dengan prioritas

Sebagian orang merasa asing dengan kata “prioritas atau bahkan ‘alergi’. Sebagian besar orang yang kami kenal jarang membicarakan hari ini. Padahal ini penting lho ! Orang mungkin akan mengatakan, “Buat apa berlama-lama membaca mengenai prioritas ? Toh semuanya berjalan lancar. Buat apa menghamburkan waktu duduk untuk memikirkan prioritas ? Bukankah masih banyak hal yang bisa dikerjakan?”

Oke, kami akan memberikan sedikit gambaran. Suatu ketika ada seorang sahabat yang diundang untuk makan siang. Kami semua telah berkumpul.Benar-benar berkumpul, kecuali satu orang. Lalu, datanglah sebuah SMS ringan yang berisi permohonan maaf karena ada acara lain Lalu kira-kira apa yang menjadi bahan pembicaraan pada makan siang itu ?

Ya, yang menjadi pembicaraan adalah menuangkan rasa marah yang tersirat! Sebagian orang yang hadir merasa tidak penting di hadapan kawan yang tidak hadir. Coba bayangkan apa arti SMS ringan tadi. SMS tadi ingin menyatakan, “Maaf, kamu bukan hal yang lebih penting dari melakukan hal lain untuk siang ini,” Inilah pesan yang sesungguhnya ingin disampaikan. (sakit ya? Tapi, kayaknya kita sering deh nglakuin hal ini. Alias kita sering nyakitin orang lain khan? Astaghfirullah)

Jadi, setiap orang dengan otomatis sudah mengurutkan prioritas dalam hidupnya. Masalahnya kemudian adalah mau dituangkan dalam tulisan atau tidak. Mau disusun rapi dan teratur atau tidak. Kami pun demikian. Coba untuk yang laki-laki, pilih mana, ntar sore mau nonton sepakbola atau ngerjain PR? Pilihanmu itulah prioritasmu.

Ada seorang aktivis yang menganggap keluarga, organisasi, dan akademis adalah sesuatu yang penting. Dan ini bener khan? Tapi yang terjadi kemudian adalah dia tidak mengurutkan prioritas untuk ketiga hal itu. Hasilnya bisa berantakan. Bisa jadi keluarganya yang bermasalah karena tidak bisa menerima kesibukannya yang sangat banyak. Atau malah organisasi yang tak bisa menerima.

Ini penting. Tinggal mau mengurutkan atau tidak. Kalau tak mau, ancaman yang akan datang adalah kita terjebak dalam prioritas sesaat. (afwan….agak ngancam nih!) Mungkin tahun ini belajar adalah hal prioritas, tapi jangan samapi meninggalkan prioritas berbagai kewajiban di keluarga. Mau tidak mau, mungkin tahun depan keluarga mungkin akan menempati prioritas yang pertama.

Tapi yang menjadi masalah kemudian adalah bagaimana cara menentukan prioritas. Nah, mari baca selanjutnya untuk menentukan jawabannya.

Hal terpenting yang mengantar orang menuju kesuksesan adalah sifat mendahulukan urusan yang memang harus didahulukan. (first thing first)

Menentukan prioritas

Untuk menentukan prioritas, kita harus mengungkapkan dulu apa mimipi dan targetmu. Jadi begini, misalnya kita ingin menjadi seorang duta besar (jangan pernah ngerasa nggak mungkin lho…) Lalu kita menerjemahkan mimpi itu dalam target tahunan, kemudian bulanan, kemudian mingguan, lalu harian. Fokuslah pada target.

Misalnya target kita tahun ini adalah diterima sebagai Mahasisiwa Hubungan Internasional Universitas Indonesia (jangan ngerasa nggak mungkin lagi,lho…) Kemudian target bulan ini adalah kita harus menyelesaikan soal latihan Bahasa Inggris sebanyak dua paket. Maka inilah prioritas pekan ini. Inilah yang harus kita utamakan.

Kalau seperti itu, bagaimana dengan kegiatan lain? Bagaimana dengan orang tua, dengan organisasi, dengan warga masyarakat. Itu juga prioritas kita, tapi di bawah prioritas kita mengerjakan dua paket soal Bahsa Inggris tadi. Jadi, kalau hari ini ada beberapa agenda yang disodorkan kepada kita, seperti makan siang bareng, ngerayain ultah temen, nonton pertandingan sepakbola, rapat program dan sebagainya. Nah, semua kegiatan itu dibawah prioritas mengerjakan dua paket soal Bahasa Inggris itu.

Lalu apakah yang lain ditinggalkan ? O…jelas tidak dong! Kita kan bisa agendakan dua paket soal Bahasa Inggris itu menjadi kegiatan di sore malam hari. Nah, pada waktu itu kalau ada kegiatan lain yang berbenturan, kita akan memilih untuk mengerjakan soal latihan tadi. Kegiatan lain akan bisa ditunda atau digeser ke waktu lain. Tapi, ada satu yang ga mungkin digeser, yaitu waktu pertandingan sepakbola! Kalu udah gini, mungkin yang harus kita geser adalah jadwal belajarnya. Yang pasti kita harus selesaikan dua paket soal Bahasa Inggris tadi. Titik.

Untuk lebih mudahnya, silahkan bagi peranmu terlebih dahulu dan apa yang akan kita lakukan. Oh ya, alangkah lebih mudahnya jika starting with the end, mulai berpikir akhir ketika awal. Jadi, bayangkanlah apa yang ingin kita dengar dari peranmu itu beberapa tahun mendatang. Misalnya peran sebagai anak, kita ingin mendengar orang tua membanggakan kita ketika kelulusan. Mereka membanggakan kita karena kita tidak hanya pintar, tapi juga sopan dan amat sayang kepada keluarga (jadi anak dambaan ortu nih ye…)

Oke, kami beri contoh untuk agenda prioritas pekan ini:

Peran Prioritas
Pelajar Mengerjakan dua paket soal Bahasa Inggris membeli buku latihan baru.
Aktivis organisasi Menyelesaikan proposal kegiatan 

Tidak terlambat datang rapat

Keluarga Membersihkan kamar 

Silaturahmi ke rumah nenek

Pribadi Membaca Buku pembangkit semangat 

Jujur pada diri sendiri

Warga masyarakat Ikut pengajian 

Berkunjung ke panti asuhan

Aturlah Jadwalmu

Seringkali kita hidup tanpa perencanaan. Akhirnya kita bisa menguasai hidup kita. Yang menguasai kita adalh kegiatan dan kegiatan. Kita terbawa arus tanpa bisa melawan. Kalau kami boleh bilang, orang seperti ini adalah orang yang menjadi budak. Dia tidak memiliki kebebasan. Bahkan atas dirinya sendiri.

Bayangkanlah ketika mulai bangun tidur saja kita harus sudah mulai mengerjakan PR, kemudian tergesa-gesa menuju kamar mandi dan lupa tidak menggosok gigi. J Ya aktivitas kita buanyak banget. Kita di sekolah dituntut A,B,C dan di organisasi juga demikian. Tentunya bila diurutkan bisa dari A sampai Z. Wah..pusing ya ! Oh ya, cukupkah gambaran ini membuatmu pusing ? Atau tidak sama sekali karena mungkin telah biasa mengalaminya setiap hari ? (Gawat!!!!)

Kita seringkali enggan meluangkan waktu barang sejenak untuk menuliskan apa yang akan kita kerjakan untuk ahri ini. Kami pun terkadang begitu (tapi kadang-kadang aja loh…) Hasilnya luar biasa. Ketika sampai di sekolah dan seharusnya membicarakan mengenai tugas esok, malah asyik bercanda. Padahal kalau diminta melakukan hal-hal yang serius selalu saja berkata pada diri sendiri “Sibuk!!!!”

Stephen R.Covey membagi waktu menjadi empat :

Mendesak Tidak mendesak
Penting 1 

Orang yang suka menunda-nunda

  • Kendaraan mogok
  • Teman terluka
    • Terlambat ke kelas
  • Besok ada ujian
2 

Orang yang Suka menentukan prioritas

  • PR yang harus selesai
  • Olahraga
  • Silaturahmi keluarga
  • Rekreasi
Tidak penting 3 

Orang yang “Yes-Man”

  • Telepon orang yang nggak penting
  • Ngurusin masalah orang lain
4 

Orang yang malas

  • Terlalu banyak nonton TV
  • Maraton dari mall ke mall
    • Terlalu banyak main game komputer
  • Ngobrol ga ada habisnya

Orang sukses hidup pada kuadran II, yaitu posisi persiapan yang tidak akan menekan mereka. Dan mereka akan menjalankan peranan-peranan mereka secara seimbang.

Mari mulai menyusunnya

Sekarang, kami akan beri contoh nyusun daftar kerja.

  1. Malam sebelumnya atau pagi-pagi sekali, pikirkan seluruh kerjaan harian kamu dan tulislah. Pakai kertas kosong atau block-note gak masalah.Yang penting nulis aja. Jangan lupa hal-hal atau kerjaan-kerjaaan yang sepele.(misal : jadwal piket)
  2. Kelompokkan mereka dengan menggunakan kode,seperti :

A : penting-mendesak

B : penting-tidak mendesak

C: tidak penting-mendesak

D: tidak penting-tidak mendesak

Jadi, prioritas pekerjaan A lebih tinggi daripada B. Sedangkan B lebih tinggi dari C,  dan seterusnya.

  1. Prioritaskan tiap kelompok dengan  menambahkan nomor setelah huruf, misal:

A1 Mengerjakan tugas matematika

A2 Mengerjakan tugas kelompok presentasi Biologi

B1 Mencuci baju

B2 Mengambil uang bulanan di ATM

C1 Telepon keluarga

C2 Merapikan berkas-berkas soal latihan

D1 Nonton film terbaru

D2 Jalan-jalan di Malioboro

Di dalam tiap kategori, angka yang lebih kecil menunjukkan prioritas yang lebih tinggi. Jadi, pengerjaan A1 lebih diprioritaskan daripada A2.Pertanyaan menyusul : Bagaimana cara penerapannya ?

Pertama sekali, buatlah daftar ini mudah dilihat setiap waktu supaya akmu tetap focus dan berada pada jalur yang benar. Kerjaan-kerjaan tersebut harus diselesaikan berurutan sesuai dengan nilai prioritas kerjaan tersebut. Kecuali jika kerjaan tersebut punya waktu sisipan, seperti pertemuan rutin atau pelajaran di kelas. Masukkan kerjaan-kerjaan yang bisa dikerjakan secara sepat ke kategori B dan C. Tujuan kamu adalah menyelesaikan seluruh item A, dan sebisa mungkin B atau C. Walaupun demikian, tetaplah realistis dengan batasan waktu dan prioritas.Tidak semua kerjaan merupakan kategori A untuk hari ini. Bahkan, jika hal tersebut sangat penting. Bisa jadi hal tersebut memang tak sempat kita kerjakan hari ini. Berilah tanda cntang (v) atau silang (x) apada tiap tugas yang harus diselesaikan (hal ini bisa menambah semangat juga loh..)

Pada akhir setiap hari (sebaiknya malam hari), pindahkan item kerjaan yang belum bisa kamu selesaikan ke daftar kerja hari lainnya. Daftar kerja hari lainnya bisa berarti hari berikutnya, atau seminggu berikutnya, atau hari lain sesuai dengan perencanaan waktu kamu. Ini menjaga seluruh kerjaan yang belum selesai biar gak kelupaan.

Ketika kamu gagal menyelesaikan suatu kerjaan pada hari berikutnya dimana kamu menambahkan kerjaan itu. Contoh : 5/5 C2 merapikan berkas-berkas soal latihan, kamu pindah pada tanggal 6 Mei dengan prioritas C2.

Dengan memindahkan kerjaan-kerjaan tertentu, kita sadar bahwa prioritas kerjaan itupun dapat berubah. Oleh karena itu, perhitungkanlah pula prioritas kerjaan-kerjaan yang kamu pindahkan tersebut. Walaupun ‘merapikan berkas-berkas soal latihan’, bisa jadi kamu beri kode C2 hari ini, tapi daalm beberpaa hari ia daapt naik mauk kategori B atau malah A. Ini tergantung bagaimana kamu menganggapnya penting atau tidak. Misalnya berkas soal latihan emang sudah menumpuk dan sangat tidak rapi. Nah, kan bisa ganggu pekerjaan lain. Makanya merapikan berkas soal latihan menjadi super duper amat sangat penting sekali banget (afwan…hiperbolis banget)

Jika kamu nyelesain seluruh pekerjaan hari ini, kamu dapat melihat jadwal pekerjaan ke depan dan menyelesaikan beberapa kerjaan yang kamu rencanakan untuk diselesaikan pada hari-hari ke depan tersebut. Dengan begini, kamu bisa menambung waktu dan tabungan waktu tersebut suatu ahri dapat kamu buka sebagai hari istirahat. Nah, ini baru asyik. Misalnya ya, hari Minggu yang biasanya cuma nonton satu film, bisa ditambah jadi nonton dua film.(eh..malah bosen ga ya?)

Oh ya, lebih bagus lagi kalo kamu punya kalender yang berukuran kecil. Kamu bisa lebih efektif jika daftar kerjaan kamu itu diletakkan gak jauh dari kalender harian. Terakhir, tambahkan tugas serta janji ke daftar kerja sebagai kebiasanmu.

Menyusun prioritas hidup lebih penting daripada emngatur waktu. Manajemen waktu tidak boleh berubah menjadi ikatan yang membatasi gerak.

Jangan terjebak

Jangan kecewa kalau tak berhasil menyelesaikan seluruh kerjaan kita hari ini. Bisa jadi itu adalah agenda mendadak yang penting hari ini. Jadi, jangan terjebak pada jadwal. Kan mungkin aja ada hal-hal yang datang tiba-tiba tanpa permisi. Misalnya, seharusnya agendamu membeli buku, eh tapi hujannya super deras. Atau ban motormu tiba-tiba aja bocor. Sesuatu yang tidak kita rencanakan sebelumnya. Nah, kita harus siap untuk mengantisipasinya.

Sekali waktu kita perlu mundur

Bagaimana misalnya kalau kamu berada dalam situasi seperti ini. Saat mau berangkat sekoalh, ban motormu kempes dan bensinnya sangat-sangat limit. Padahal sekarang udah jam tujuh kurang beberapa detik dan waktu tempuh dari rumah ke sekolah tu kira-kira lima belas sampai dua puluh menit Mana yang akan kamu lakukan? Yang seharusnya kamu lakukan adalah memompa ban motor atau mengisi bensin dulu. Loh, berarti sekolahnya telat dunk? Terkadang kita memang perlu mundur satu atau dua langkah untuk kemudaian maju tiga, empat atau lima langkah. Paham ga? Maksudnya tuh gini, jika natinya kamu tidak memompa ban dulu, bisa-bisa nanti di jalan mengalami kecelakaan karena terpeleset. Yang kamu tuju malah rumah sakit, bukannya sekolah. Gawat kan? Atau jika kamu nekat pergi tanpa isi bensin, nanti malah bisa nuntun motor di tengah jalan. Padahal letak poim bensin masih beratus-ratus meter dari tempatmu berada. Abis itu, bajumu juga jadi kotor dan bau karena kena keringat. Jadi, untuk maju tiga atau empat langkah, kita perlu mundur satu dua langkah (tapi jangan banyak-banyak mundur lho!)

Belajar Berkata ‘Tidak’

Ini nih yang juga penting. Belajar mengatakan “Tidak, saya menyesal….” Untuk bisa mengatur dan memenuhi sesuatu, kita perlu belajar bagaimana berkata “Tidak…saya menyesal…karena saya punya tujuan”. Jadi kalaudaalm setiap waktu dan urusan kamu bisa bilang “Ya” maka untuk urusan lain pun seharusnya kamu bisa juga bilang “tidak”. Tapi inget, harus dengan sopan, santun, jelas, dan penuh dengan kelembutan. Dengan begini, setidaknya kamu sudah memperlihatkan penghargaan atas ajakan sekaligus menjelaskan kesibukanmu. Ukhuwah pun bisa tetap terjaga !

Ide cerah = durian runtuh

Suatu ketika kamu punya ide yang cerah. Nah, ketika kamu punya ide cerah untuk menyelesaikan sesuatu, jangan tunda sesuatu yang harus kamu selesaikan tersebut hingga hari sebelum hari deadlinenya. Kalaupun kamu ga bisa mengerjakannya ketika kamu udah dapet ide cerah tersebut, kamu bisa kan menuliskannya sementara sampai tiba waktu untuk menyelesaikannya. Contohnya, tiba-tiba aja kamu dapat ide untuk menulis sebuah cerpen, esai, atau naskah drama yang ceritanya menarik. Nah, tuliskan bagaimana alur ceritanya. Terus habis itu, agendakan juga kapan akan kamu selesaikan pekerjaan tersebut. Jangan samapi kamu malah kehilangan ide cemerlangmu tersebut. Dan sering buanget loh, yang namanya ide cemerlang itu datangnya tiba-tiba dan tiada terduga sebelumnya. Ya….bak durian runtuh (tapi ga sakit kok!he3)

Oke, kami harap tips-tips ini akan membantumu menyelesaikan berbagai problem mengatur waktu dan tentunya membantumu meraih cita-cita. Jangan lupa ya, jadikan ini sebagai kebiasaanmu. Selamat mencoba…..

Bergeraklah, karena diam itu mematikan

Ilmu yang tidak diamalkan seperti pohon yang tidak tumbuh. Kmau semua pasti pernah denger kan? Ya, seluruh penjelasan mengenai prioritas ini hanyalah 1% saja untuk membantu meraih mimpi. Lainnya ? Ya kamu sendiri yang menentukan. Kamulah yang memiliki 99% factor lainnya untuk mengejar mimpimu. Kamu harus bergerak !

“A goal is created three times. First as a mental picture. Second, when written down to add clarity and dimension. And third, when you take action towards its achievement.”

“Suatu tujuan diciptakan tiga kali. Pertama sebagai gambaran mental. Kedua, ketika ditulis dengan disertai kejelasan dan dimensi. Dan ketiga, ketika Anda melakukan tindakan-tindakan untuk mencapainya.”

Sebuah ilustrasi

Kita akan beralih sejenak pada sebuah ilustrasi yang diberikan oleh Faishal Umar tentang prioritas hidup. Simak ya…

Seorang instruktur memasuki ruang pelatihan dan meletakkan kendi air di tengah-tengah ruangan. Kemudian ia menghadap ke arah peserta dan berkata, “Sekarang kita akan belajar menyusun rencana kerja mingguan. Dan anggaplah kendi ini sebagai satu minggu penuh, dan kita akan mengisi kendi ini secara logis dan praktis.”

Sang instruktur kemudian mengeluarkan sebuah kantong besar yang berisi bebatuan agak besar. Bebatuan itu dimasukkan dalam kendi, dan kendi itu pun berguncang hebat. Kendi itu tidak mampu menamoung semua bebatuan. Saat itu instruktur bertanya kepada peserta, “Apakah kendi ini sudah penuh?” Para peserta kemidian menjawab dengan kompak, “Sudah!” Instruktur itu pun menggelengkan kepala, membantah anggapan kalau kendi itu sudah penuh.

Kemudian ia mengeluarkan kantong ukuran sedang yang berisi kerikil lalu menuangkannya ke dalam kendi. Kerikil-kerikil itu menyelinap masuk ke sela-sela bebatuan besar. Setelah kendi itu penuh dengan kerikil-kerikil berukuran sedang, instruktur bertanya lagi, “Sekarang, apakah kendi ini sudah penuh?” Para peserta menjawab, “Belum!” Sang instruktur tersenyum.

Kemudian ia mengeluarkan kantong ukuran kecil yang berisi pasir dan menuangkannya ke dalam kendi. Pasir itu menyelinap masuk menisci ruang kosong di antara bebatuan besar dan kerikil-kerikil tadi. Setelah kendi itu penuh, instruktur menanyakan kepada peserta, “Sekarang apakah kendi ini sudah penuh?” Dengan serentak semua peserta menjawab, “Sudah!” Instruktur itu kembali tersenyum.

Tahu maksudnya kan? Bebatuan besar itu adalah hal-hal yang ‘penting dan paling utama’. Kerikil-kerikil itu adalah pekerjaan ‘penting’, sedangkan butiran-butiran pasir adalah pekerjaan-pekerjaan biasa sebagai tanda peduli terhadap orang lain.

Menunda-nunda

Mungkin sebagian besar di antara kita pernah bilang begini :

“Ah, nanti saja. Saya nonton televise dulu. Acaranya bagus.”

“Istirahat dulu, baru setelah itu saya kerjakan.”

“Lima menit lagilah, saya sedang membaca artikel yang menarik nih.”

Hati-hati! Perkataan lisan di atas adalah ucapan orang yang suka menunda-nunda pekerjaan. Banyak lho pekerjaan yang tertunda gara-gara mengerjakan sesuatu yang bukan prioritasnya. Menunda pekerjaan nantinya malah akan membuat hidup kita berantakan. Kok bisa?

Misalnya, kamu sudah mengalokasikan waktu satu jam untuk belajar menghadapi ulangan. Bahan yang dipelajari cukup banyak. Tapi ada acara menarik berdurasi satu jam juga. Lantas kamu berkata, “Ah, nonton sebentar aja. Habis itu belajar.” Akhirnya karena saking menariknya kamu malah nonton TV deh samapi alokasi waktumu buat belajar selesai. Ulangan kamu pun dapat nilai jelek karena gak belajar. Gak pingin kan?

Bisa juga banyaknya pekerjaan yang tidak tuntas akibat salah alokasi waktu. “Mmm, tampaknya tugas ini bias selesai dalam dua jam.” Masa? Kita perlu mempertimbangkan lebih dalam dulu sebelum mengalokasi waktu untuk mengerjakan sesuatu.

Ketika misalnya waktu dua jam suatu pekerjaan belum selesai, baru terasa kalau waktu yang dijatahkan tidak cukup. Saat itulah kita bosan dan berkata, “Ah, sebentar. Istirahat dulu.” Dan ternyata istirahatnya ‘kebablasen’, sampai-sampai pekerjaan tak terselesaikan.

‘Time is word’. Pepatah ini punya makna yang bagus bagi kita.

The Meaning of Time

To understand the meaning of ONE YEAR

ask a student who has failed his exam

To understand the meaning of ONE MONTH

ask a mother who has given birth to a-pre-mature baby

To understand the meaning of ONE WEEK

ask an editor of a weekly magazine

To understand the meaning of ONE DAY

ask a daily wage labour

To understand the meaning of ONE HOUR

ask a girl who is waiting for her boy

To understand the meaning of ONE MINUTE

ask a person who has missed the train

To understand the meaning of ONE SECOND

ask a person who has survived an accident

To understand the meaning of ONE MILLI-SECOND

ask a sprinter who has won a silver medal in the Olympics

And lastly, are you realizing that the time is passing by?

Are you ready to be responsible to Allah

how you used every milli second of your time?

Saran

  1. Untuk hal-hal yang berkaitan dengan penjelasan tabel (ex:tabel pembagian waktu Stephen R. Covey), mentor bisa meminta pengelola mentoring untuk mengeprint atau memfotokopi tabel untuk dibagikan kepada peserta mentoring. Dengan itu, peserta bisa memahami tabel secara lebih baik tanpa mengawang-awang sedangkan mentor memberikan penjelasan tentang tabel tersebut.
  2. Mengenai keperluan itu, mentor harap memberi tahu kepada pengelola mentoring pada H-1 sebelum memberikan materi tentang bab prioritas ini.

sumber

softfile materi mentoring KSAI AL USWAH

 
Leave a comment

Posted by on March 3, 2011 in Materi Mentoring

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: