RSS

Pahlawan untuk Dakwah

10 Mar

Pahlawan mukmin tak akan membuang energi

untuk memikirkan

seperti apa mereka akan ditempatkan

dalam sejarah.

Yang mereka pikirkan hanya satu:

bagaimana meraih posisi terhormat di sisi Allah swt.

-Anis Matta-

Tujuan

  1. Peserta menyadari kondisi sekolah mereka dalam sudut pandang dakwah
  2. Peserta memahami peran mereka untuk Islam dan negara
  3. Peserta tergerak untuk berbuat lebih banyak kebajikan

Sejarah Kepahlawanan Islam

Jika para pahlawan adalah anak jaman mereka, maka tentulah mereka membutuhkan potongan-potongan zaman yang merangsang munculnya kepahlawanan mereka. Ada banyak orang baik yang lahir dan mati tanpa pernah menjadi pahlawan; karena ia lahir pada zaman yang lesu.

Begitulah awalnya kesaksian kita; ada banyak potongan zaman yang kosong dari para pahlawan. Zaman kevakuman, zaman tanpa pahlawan. Pada potongan zaman seperti itu mungkin ada orang yang berusaha menjadi pahlawanl tapi usaha itu seperti sebuah teriakan di tengah gurun; gemuruh sejenak, lalu lenyap ditelan sunyi gurun.

Itulah yang terjadi pada saat sebuah peradaban sedang terjun bebas menuju kehancuran atau keruntuhannya. Ambillah contoh setting sejarah Islam. Setelah berakhirnya kekuasaan Daulah Muwahhidin di kawasan Afrika Utara pada penghujung millennium hijriyah pertama, sulit sekali menemukan nama besar dalam sejarah Islam. Siapakah pahlawan yang kita kenal dari generasi abad kesebelas dan keduabelas? Saat itu bertepatan dengan abad kedelapanbelas dan kesembilanbelas hiriyah. Saat itulah penjajahan Eropa atas dunia Islam terjadi.

Para pahlawan Islam baru bermunculan kembali setelah abad ketigabelas hiriyah. Generasi pahlawan yang muncul pada abad ini adalah pahlawan pembaharu Islam. Ada nama Muhammad bin Abdul Wahhab di jazirah Arab. Ada nama Muhammad Abduh, Hasan al-Banna, dan Sayyid Quthub di Mesir. Ada Alkandahlawi di India.

Begitulah mata rantai kepahlawanan pembaharu dimulai; kelesuan zaman mandul telah sampai pada titik nadirnya; kesabaran orang-orang terjajah telah habis, kelemahan orang-orang tertindas telah menjelma jadi kekebalan. Mereka terbangun dari gelap, bergerak dalam ketidakjelasan. Akan tetapi mereka telah bergerak. Ruh kehidupan umat telah kembali.

Sejarah kepahlawanan manusia, dengan demikian, sebenarnya merupakan bagian dari sejarah peradabannya. Ini menjelaskan mengapa lebih banyak pahlawan yang lahir dari peradaban-peradaban besar dan relatif tua. Masyarakat primitif  misalnya, biasanya memiliki nasib yang sama dengan masyarakat dari sebuah perdaban yang baru saja mengakhiri kejayaannya.

Kenyataan inilah yang menjelaskan hubungan timbal balik antara pahlawan dan lingkungannya, tetapi pra pahlawan itu tetap saja meruapakan anak-anak yang lahir dari rahim peradaban. Pahlawan menjadi simbol kekuatan sebuah peradaban, tetapi peradaban member ruang yang luas bagi munculnya para pahlawan itu. Begitu juga sebaliknya. Hilangnya para pahlawan adalah isyarat matinya sebuah peradaban, tetapi runtuhnya sebuah peradaban adalah isyarat hilangnya ruang gerak bagi para pahlawan.

Hubungan antara pahlawan dan lingkungannya, antara tokoh dan peradabannya adalah hubungan yang saling menghidupkan dan saling mematikan.

Hubungan saling menghidupkan dan saling mematikan antara pahlawan dan lingkungannya akan melahirkan kenyataan ini: dalam setiap sejarah peradaban, sebagian besar muncul pada dua potongan masa, satu pada masa kebangkitan, dan satu lagi pada masa kejayaan. Setelah itu, datanglah masa keruntuhan: zaman kevakuman, zaman tanpa pahlawan.

Sejarah Kepahlawanan: Pahlawan Kebangkitan

Apakah yang terjadi pada zaman kebangkitan? Apa pula yang terjadi pada jaman kejayaan? Marilah terlebih dahulu kita memeriksa kenyataan sosial masyarakat manusia pada masa kebangkitannya.

Kekuatan utama yang menggerakkan suatu komunitas pada masa kebangkitan adalah kecemasan. Inilah mata air yang memberikan mereka energi untuk bergerak dan bergerak, melangkah tertatih-tatih sembari bangun dan jatuh, meraba dalam ketidakpastian. Namun, mereka bergerak.

Mereka semua dirundung kecemasan; karena jarak yang terbentang jauh antara harapan dan kenyataan. Mereka ‘merasakan’ jarak yang terbentang jauh itu, maka mereka menjadi cemas, dan kecemasan itulah yang menggerakkan mereka. bolej jadi, sebuah bangsa terjajah dan menderita, tetapi mereka ‘tidak merasakannya’, maka merekatidak cemas, maka mereka tidak bergerak.

Kenyataan inilah yang kita temukan pada masa penjajahan dulu. Bangsa Indonesia dijajah selama 350 tahun. Waktu yang terlalu lama; kesabaran yang sungguh-sungguh luar biasa; sebab penjajahan tidak selalu ‘dirasakan’ sebagai penderitaan. Selama masa-masa yang pahit itu, ada banyak generasi yang merasa tidak sedang menghadapi masalah tertentu, yang merasa bahwa hidupnya baik-baik saja. Meeka mungkin orang-orang shaleh, bekerja, dan berkeluarga, tetapi hidup di bawah kekuasaan penjajah, namun tidak mersakannya sebagai sebuah masalah.

Itulah masalahnya. Senjang antara penderitaan dan perasaan tentang penderitaan itu, sebagian orang merasakannya, tetapi yang lain tidak merasakannya. Yang merasakannya akan didera kecemasan, yang tidak merasakannya akan bersikap dingin terhadapa penderitaan itu. Yang merasakannya biasanya akan bergerak, biasanya juga akan menjadi pahlawan. Yang tidak merasakannya biasanya orang-orang awam, atau kolaborator penjajah, biasanya tidak akan bergerak, sampai arus besar perlawanan datang menghanyutkan mereka.

Begitu kita menyaksikan Cokroaminoto, Agus Salim, dan para pejuang kemerdekaan bergerak melakukan perlawanan; mereka merasakan kesenjangan itu, mereka cemas, maka mereka menjadi pahlawan.

Itulah yang terjadi di seluruh dunia Islam dan Dunia Ketiga selama abad 20 lalu; munculnya para pahlawan kebangkitan, yang menemukan gairah perlawanan dari kecemasan. Sebab, itulah potongan zaman mereka, itu pula permintaan zaman mereka, dan itu pula kehendak zaman mereka.

Karena itulah, ada nama Abdul Hamid bin Badis di Aljazair, Hasan al Banna di Mesir, Izzudin al-Qassam di Palestina, dan demikian seterusnya.

Sejarah Kepahlawanan: Pahlawan Kejayaan

Jika kecemasan merupakan kekuatan utama yang menggerakkan para pahlawan kebangkitan, maka kekuatan apakah yang paling agresif menggerakkan para pahlawan di zaman kejayaan? Jawabannya adalah obsesi kesempurnaan. Penjelasannya seperti ini: pada zaman kejayaan suatu peradaban, kondisi kehidupan masyarakat sudah relatif stabil; ada pemerintahan yang kuat, ada pertahanan dan keamanan yang stabil, ada kemakmuran yang merata secara relatif, ada tingkat kesehatan dan pendidikan yang baik, dan seterusnya. Masyarakat tidak lagi berpikir pada lingkaran kebutuhan pokok dan logistik dasarnya. Karena itu, ada ketenangan, dan dalam ketenangan itu muncul kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan intelektual dan spiritual.

Selain dilatari oleh sistem pemenuhan kebutuhan manusia secara bertahap, pengembangan intelektual juga merupakan kesinambungan yang niscaya dari mata rantai perkembangan sebuah peradaban. Lihatlah sejarah Islam misalnya. Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat terjadi pada abad kedua, ketiga, dan keempat. Pada abad pertama energi kaum muslim tercurah untuk kebangkitan awal.

Ini juga yang terjadi di Eropa; masa kebangkitan peradaban dari masa keterpurukan di abad pertengahan terjadi setelah Perang Salib pada abad ketigabelas hingga abad ketujuhbelas. Setelah itu, peradaban Eropa mengalami masa kejayaan pada abad kedelapanbelas hingga abad keduapuluh. Cerita abad dua puluh satu mungkin akan sangat berbeda. Perkembangan ilmu pengetahuan paling pesat terjadi pada tiga abad terakhir ini.

Ketenangan memungkinkan orang menekuni detil-detil, sementara pengembaraan intelektual dan spiritual selalu mendorong orang pada kesempurnaan. Ini menjelaskan tipikal kepahlawanan zaman kejayaan; biasanya terjadi paling banyak pada bidang pemikiran, kebudayaan, seni, dan ilmu pengetahuan, dan pembangunan fisik, serta berorientasi pada spesialisasi yang rumit dan detil, sebagai symbol kesempurnaan.

Kepahlawanan zaman kejayaan didominasi oleh semangat perfeksionalisme dan inovasi. Kepahlawanan dibedakan pada ketekunan dan kreativitas; seperti ketekunan Imam Bukhari dan kawan-kawannya meneliti sanad dan matan hadits, atau kreativitas Imam Syafi’I saat beliau merumuskan kaidah-kaidah ushul fiqh, atau temuan Ibnu Sina dan Ibnu Rusydi dalam bidang kedokteran, atau kedalaman Ibnul Qayyim, Imam Ghazali di bidang akhlak, atau Al Jahiz di bidang sastra, dan seterusnya.

Adapun pembangunan fisik dalam kaitan ini terjadi sebagai bagian dari cara mengekspresikan temuan-temuan itu secara fisik; bahwa kemajuan pemikiran, bahasa, budaya, seni, dan ilmu pengetahuan dengan sendirinya meningkatkan citarasa keindahan, dan itu terekspresi salah satunya dalam pembangunan fisik. Inilah penjelasan untuk Istana Al-Hamra di Spanyol, atau Istana Khilafah Abbasiyah di Baghdad.

Begitulah obsesi kesempurnaan melahirkan ilmu dan meninggikan cita rasa keindahan, dan itulah karya pahlawan zaman kejayaan.

Sejarah Kepahlawanan: Di Antara Reruntuhan

Seperti pada malam-malam yang gelap, biasanya masih selalu tersisa satu dua bintang di langit. Begitulah para pahlawan dalam sejarah peradabannya. Bahkan, ketika sebuah peradaban mulai mendekati senja, menggelinding dari puncak kejayaannya menuju keruntuhannya, masih ada satu dua pahlawan yang tersisa di antara reruntuhan itu.

Para pahlawan yang berdiri tegak di antara reruntuhan peradabannya, yang menyala terang di tengah kegelapan sejarahnya, memang tidak akan pernah mampu menghentikan laju keruntuhan peradabannya, persis seperti sebuah bintang yang tidak akan mampu menerangi langit seluruhnya. Akan tetapi, mereka adalah saksi-saksi sejarah, saksi-saksi Tuhan atas manusia; bahwa ketika umat manusia sedang memasung dirinya sendiri, lantaran dominasi syahwatnya yang biasanya menjadi sebab keruntuhannya, masih ada yang berusaha mengingatkan mereka, masih ada yang berusaha mencegah reruntuhan itu.

Ambillah contoh sejarah Islam. Shalahuddin Al Ayyubi memang berhasil mengusir Kaum Salib dari dunia Islam pada abad ketujuh hijrah. Akan tetapi, ia tidak berhasil mencegah perjalanan sejarah Dunia Islam menuju keruntuhannya setelah itu. Dalam perjalanan menuju keruntuhan itu, masih muncul satu dua pahlawan. Ada Ibnu Hajar al-‘Asqalani pada abad kedelapan hijrah yang menulis 13 jilid buku, Fathul Bari, untuk menjelaskan Shahih Bukhari yan ditulis lima abad sebelumnya.

Lebih dari itu, ada Muhammad al Fatih Murad yang membebaskan Konstantinopel tahun 1453 M dan memulai babak baru penyebaran Islam ke kawasan Eropa Timur. Bahkan, ada Daulatul Murobithin dan Daulatul Muwahhidin di kawasan Afrika Utara pada akhir millennium pertama hijrah.

Namun, semua itu muncul seperti sisa-sisa nafas peradaban; kita tidak sedang berbalik naik ke puncak, kita hanya tersangkut oleh pohon-pohon besar saat kita menggelinding dari puncak kejayaan, atau tersangkut kayu-kayu besar saat kita terseret arus dari sebuah banjir besar. Banjir itu tetap melumat semuanya, walaupun ada satu dua yang selamat.

Para pahlawan itu muncul dan melaksanakan tugasnya dengan baik. Jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding jumlah pahlawan pada masa kebangkitan dan ejayaan. Peran sejarah mereka juga lebih rumit dan spesifik. Bagi peradabannya, mereka hanya berperan mengurangi laju gelinding bola salju keruntuhan, memberi bantuan pernafasan untuk peradabannya yang sedang sekarat.

Akan tetapi, keruntuhan itu sendiri tetap saja niscaya. Itu takdir sejarah yang telah ditetapkan sebagai hokum kehidupan, “Dan itulah hari-hari yang Kami pergilirkan di antara manusia.” Ya, hari-hari kemenangan dan kekalahan, hari-hari kejayaan dan keruntuhan. Di semua hari itu, selalu ada pahlawan. Pertanyaannya kemudian adalah:  di mana zaman apa kita berada dan apa peran kita?

Rebut Takdir Kepahlawanan Itu

Kerisauan kita semua pada masa ini ialah bahwa ketika krisis keteladanan melanda, ”kita justru mengalami kelangkaan pahlawan”. Memang itu sama kita rasakan. Lebih risau lagi jika selanjutnya diperkirakan bahwa dengan demikian telah tampak ’isyarat kematian sebuah zaman keteladanan’. Tapi jangan, janganlah kiranya malapetaka itu terjadi.

Krisis adalah  takdir sebuah masa. Di mana pun tempatnya. Ia tak perlu disesali. Apalagi dikutuk. Kita manusia hanya perlu meyakini sebuah kaidah, bahwa masalah kita bukan pada krisis itu melainkan pada kelangkaan pahlawan saat krisis itu terjadi. Itu tanda kelangsungan atau kehancuran sebuh periode zaman.

Sejarah telah mengajarkan kita sebuah kaidah bahwa sebuah misi besar haruslah diemban oleh manusia yang besar; bahwa sebuah beban yang amat berat haruslah dipikul oleh laki-laki yang kuat; bahwa sebuah pedang yang tajam hanyalah akan berguna jika ia berada dalam genggaman tangan seorang pahlawan pemberani; bahwa sebuah peradaban keteladanan hanya dapat dibangun di atas altar sejarah oleh manusia-manusia teladan.

Kisah-kisah indah Rasul beserta risalahnya telah mengajarkan hal ini. Sebuah cita-cita yang luhur membutuhkan manusia yang sama luhurnya dengan cita-cita itu. Sebuah cita-cita yang besar membutuhkan manusia-manusia yang sama besarnya dengan cita-cita itu. Sebuah sistem yang baik hanya akan memperlihakan keindahannya jika diterapkan oleh manusia yang sama baiknya dengan sistem itu. Maka, ketika Islam diturunkan, ia telah melahirkan sebuah fenomena indah: kebenaran risalahnya dan kekuatan pesona rasulnya.

Itulah rahasia yang dengan baik dipahami oleh Rasulullah saw. Ia mengetahui bahwa Islam hanya bis menjadi realitas kehidupan dan menjadi abadi dalam sejarah apabila ia mempunyai pendukung-pendukung yang kuat sepanjang masa. Inilah yang terjadi di Arab, yang mengalami krisis luar biasa, krisis kejahiliyahan terbesar yang pernah ada di muka bumi. Maka, para penggembala kambing yang menghuni Jazirah Arab yang tandus, tiba-tiba hadir ke permukaan sejarah dengan segudang pahlawan-pahlawan besar. Islam pun ‘terwariskan’ dari masa ke masa.

Kini, setelah lima belas abad kemudian, Islam menjadi fenomena sejarah sebagai sebuah peradaban terbesar yang pernah dan masih ada hingga saat ini. Islam tersebar di seluruh pelosok  dunia, dengan jumlah penduduk sekitar 1,6 milyar manusia. Begitulah kejadiannya, jumlah pahlawan yang ditinggalkan nabi memang sedikit tapi mereka semua membawa semangat dan kesadaran sebagai pembangun peradaban dan membawa semangat dan kesabaran sebagai pembangun peradaban dan pembawa talenta sebagai arsitek peradaban.

Kesadaran itu terbentuk sejak dini dalam benak mereka. Sejak awal mereka menyadari bahwa Al-Quran bukanlah sebuah buku filsafat kehidupan yang kering dan rumit atau pikiran-pikiran indah yang tersimpan dalam menara gading dan tak punya alas dalam realitas kehidupan. Al-Quran adalah petunjuk bagi manusia tentang bagaimana seharusnya kita mengelola kehidupan di bumi ini. Bumi adalah ruang di mana manusia menurunkan kehendak Allah menjadi satuan satuan realitas kehidupan.

Para pahlawan itu bergerak lincah dalam wilayah yang nyata: bumi. Proses kreativitas mereka tumpah ruah di sini. Kerja pemikiran mereka terpola dalam dua kerangka: bumi adalah landskapnya, dan wahyu diumpamakan sebuah master plan.

Sayangnya, kini hal tersebut justru jadi masalah kita, kaum muslim di bumi Teladan khususnya. Agama besar ini tidak lagi diemban oleh manusia-manusia besar; akal-akal raksasa tidak lagi hadir di tengah kita. Padahal, saat ini kita sedang menghadapi sebuah krisis. Krisis yang membutuhkan akal-akal kreativitas pada diri seorang muslim. Akal-akal yang memahami zaman dan memberi sesuatu yang baru bagi zaman krisis keteladanan yang ada.

Akal-akal yang ada sekarang, bukan hanya nampak tidak berdaya memahami zamannya, tapi bahkan tidak sanggup memahami dirinya sendiri, tidak sanggup memahami sumber ajarannya sendiri, tidak sanggup memahami warisan peradabannya sendiri. Akal-akal muslim sekarang tampak mengalami kelumpuhan. Apakah yang membuatnya lumpuh? Ini bagian yang paling krusial dari keseluruhan problematika kita yang terkait dengan masalah kepahlawanan. Lumpuhnya akal-akal muslim telah menyebabkan kita mengalami kekeringan mata air peradaban. Kekeringan inilah yang kita warisi dan belum sanggup kita selesaikan, sehingga seakan-akan kita bukan hanya sebagai korban, tapi sebagai generasi penghancur.

”Masa depan di tangan Islam”, ramalan itulah yang selalu memunculkan harapan. Harapan, yang kata Rasulullah SAW adalah rahmat Allah pada umatku. Kalau bukan karena harapan, niscaya takkan ada orang yang mau menanam pohon dan takkan ada ibu yang mau menyusui anaknya. Tapi, tentu saja kita harus menyadari sebuah realita. Sebuah realita yang terbentang antara peluang membuat zaman keteladanan dan kemampuan kita merebut pelung tersebut masih jauh. Jarak itulah yang menjadi masalah kita. Mungkin apa yang dinamakan ’siklus 10 tahunan’ akan terjadi di sekolah ini. Tapi siapa yang bisa menjaminnya?

Oleh karena itu tugas kita saat ini adalah  mendekatkan jarak itu; jarak antara Islam dan pahlawan, jarak antara peluang dengan kemampuan untuk merebutnya. Karena kejayaan bukanlah kado yang dihadiahkan, melainkan layaknya piala yang harus direbut. Manusia muslim yang ada inilah yang harus kita rekonstruksi ulang agar ia terbentuk sedemikian rupa: Menjelma menjadi ’manusia teladan’.

Bagaimanapun, kita dapat meramalkan Islam dapat dengan mudah memenangkan pertarungan dalam hal pemikiran, meskipun perang yang sesungguhnya justru terletak di antara kenyataan. Itu adalah medan manusia. Oleh karena itu, keindahan dan kebenaran Islam layaknya sebuah pedang. Yang di bumi teladan ini pedang itu sangat tajam dan telah terhunus, dan sedang menanti tangan perkasa dari sang pahlawan.

Bumi Teladan sedang mengalami krisis dan kita hanya membutuhkan satu hal: motivasi. Sebab, kita sendiri, pada dasarnya, mengetahui jalan keluar yang harus kita cari. Sebuah kehidupan berhiaskan mahkota keteladanan masih mungkin dibangun di sekolah ini. Tidak peduli seberapa berat krisis yang menimpa kita saat ini. Masih mungkin. Dengan satu kata: pahlawan.

Tapi jangan menanti kedatangannya atau menggodanya untuk hadir. Sekali lagi jangan pernah menunggu!! Mereka tidak akan pernah datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Di Bumi Teladan ini. Mereka menjadi ’besar’ di sekolah ini. ’mereka’ adalah aku, kau, dan kita semua. ’mereka’ bukan orang lain. ’mereka’ hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka. Dan kita akan menyaksikan peradaban baru: Teladan Darussalam.

Maroji’

  1. Dari Gerakan ke Negara, Anis Matta
  2. Mencari Pahlawan Indonesia, Anis Matta

sumber : softfile materi mentoring KSAI AL USWAH SMA N 1 Teladan Yogyakarta

 
Leave a comment

Posted by on March 10, 2011 in Materi Mentoring

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: